Tampilkan postingan dengan label LITERASI SAINS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LITERASI SAINS. Tampilkan semua postingan
Penemuan-penemuan hebat ternyata bukan hanya monopoli ilmuwan mancanegara, Indonesia pun ternyata banyak memiliki ilmuwan-ilmuwan jempolan yang karya dan penemuannya mendunia. Berikut di antara ilmuwan itu: 

1. BJ HABIBIE (Penemu Teori, Faktor dan Metode Habibie)
(Teknologi di bidang Pesawat Terbang) 

Salah seorang tokoh Indonesia yang disegani di dalam dan luar negeri adalah Presiden Indonesia Ke-3, Baharuddin Jusuf Habibie. Nama beliau sudah tak asing lagi di masyarakat internasional sebagai salah seorang manusia jenius di muka bumi.

Kepakaran beliau di bidang teknologi auronautika atau ilmu pesawat terbang menjadikannya sebagai salah seorang pemegang hak paten dari beberapa teknologi penerbangan.

Salah satu  teori yang beliau temukan di dunia penerbangan adalah tentang teori keretakan pesawat. Dengan teori ini, beliau berusaha meminimalisir tingkat kecelakaan penerbangan hingga mampu menyelamatkan jiwa manusia.

Teori ini berawal dari kenyataan bahwa pada tahun 1960 perkembangan teknologi pesawat terbang belum sepesat seperti sekarang, banyaknya musibah pesawat terbang yang terjadi karena kelelahan (fatique) pada bodi pesawat.
[Silahkan baca artikel sebelumnya: Mengapa Pesawat udara bisa terbang?]

Biasanya titik rawan kelelahan ini terjadi di sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang, atau antara sayap dan dudukan mesin. Sebab elemen inilah yang secara terus-menerus mengalami guncangan keras, baik ketika sedang take off ataupun landing.

Di saat sebuah pesawat melakukan take off, sambungannya menerima tekanan udara (uplift) yang besar. Begitu ketika sebuah pesawat akan melakukan landing dan menyentuk landasan, bagian ini pula yang menanggung hempasan tubuh pesawat. Akibatnya kelelahan pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (crack). Semakin hari keretakan itu semakin memanjang dan dapat berakibat fatal, karena sayap pesawat bisa patah tanpa diduga. Hal ini menyebabkan potensi fatique semakin besar.

Di sinilah peran seorang BJ Habibie yang kemudian datang menawarkan sebuah solusi. Beliaulah yang menemukan bagaimana rambatan titikcrack itu berkerja, yang kemudian dikenal dengan nama teori crack progression.


Dengan teorinya, Habibie berhasil menghitung crackitu dengan rinci sampai pada hitungan atomnya. Hal ini tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharannya lebih mudah dan murah. Teori crack progression atau yang lebih dikenal dengan Faktor Habibie, porsi rangka baja pesawat bisa dikurangi dan diganti dengan dominasi alumunium dalam body pesawat terbang. Dan dapat mengurangi bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar sampai 10 persen dari bobot konvesionalnya.

Faktor Habibie ternyata juga memiliki peran dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian kerangka pesawat. Sehingga sambungan badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara ketika pesawat take off. Begitu juga pada sambungan badan pesawat dengan landing gear jauh lebih kokoh sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat. Masalah penstabilan kosntruksi di bagian ekor pesawat ini dapat dipecahkan Habibie hanya dalam masa 6 bulan saja.

Penemuan-penemuan yang berhubungan dengan konstruksi pesawat terbang dikenal dengan teori Habibie, Faktor Habibie, dan metode Habibie.


2. PROF. DR. MEZAK ARNOLD RATAG (Penemu Planetary Nebula Cluster) 

Astronom lulusan ITB Bandung ini namanya telah diabadikan di 120 Planetary Nebula Cluster, termasuk Ratag-Ziljstra-Pottasch-Menzies dan Ratag-Pottasch cluster, yang telah ia temukan. The International Astronomical Union begitu menghargai karyanya pada Planetary Nebula yang merupakan sebuah langkah maju yang besar dalam ilmu pengetahuan. Ia juga menerima penghargaan tertinggi untuk kepeloporan kerjanya dalam model iklim.
Prof. Mezak juga bekerja sebagai Direktur Biro Meteorologi Bahasa Indonesia, Klimatologi dan Geofisika. Selain itu ia juga peneliti dalam Biro Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Pada tahun 1988 Universitas Kerajaan Belanda di Groningen, Rijksuniversiteit te Groningen membolehkan Mezak untuk menempuh ujian doktoral (magister). Pada Juni 1991 Mezak Ratag memperoleh gelar doktor (summos honoris) dengan disertasi yang berjudul “A Study of Galactic Bulge Planetary Nebulae”.
Mezak telah mempublikasikan lebih dari 100 karya ilmiah nasional dan internasional. Ratusan Planetary Nebulae (PN) baru telah ditemukannya. Temuan PN tersebut diterbitkan oleh Observatorium Strasbourg. Lebih dari 100 international citations tentang karya-karya ilmiahnya dapat dijumpai dalam berbagai jurnal, buku, dan prosiding internasional.


3. JOSAPHAT T.S SUMANTYO (Penemu Radar 3 Dimensi) 

Dengan totalitas dan dedikasinya di bidang antena, sensor, dan radar, membuat Josh meraih berbagai penghargaan dari Chiba University, antara lain dari Nanohana Venture Competition Award, Nanohana Competition Award hingga Chiba University President Award.

Josh juga pernah meraih penghargaan The Society of Instrument and Control Engineers (SICE) Remote Sensing Division Award. Anggota dari Society of Instrument and Control Engineers (SICE) sendiri adalah lembaga-lembaga besar seperti JAXA (lembaga antariksa Jepang), NICT (Institut Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Jepang), NIES (Institut Nasional Studi Lingkungan), ISAS (Institut Ilmu Pengetahuan Antariksa dan Astronotikal), universitas-universitas, serta perusahaan-perusahaan besar perlengkapan antariksa Jepang mulai dari Mitsubishi, Toshiba, dan NEC.

Ratusan paten milik Josh tersebar di 118 negara di dunia. Karya Josh di masa depan akan diaplikasikan di bidang telekomunikasi, transportasi, penginderaan jarak jauh, kesehatan maupun militer. 1200 unit Radar cuaca buatan Josh akan digunakan oleh perusahaan Jepang Weathernews Corporation untuk mengirimkan informasi prediksi cuaca 3 Dimensi. Informasi ini nantinya juga digunakan untuk navigasi pesawat, kapal (alat transportasi massa) dengan lebih akurat. Josh juga membuat radar anti bajak laut bagi kapal-kapal skala besar Jepang, maupun radar-radar untuk mobil yang melewati daerah bersalju.


4. DR. JOHNY SETIAWAN (Penemu Planet Baru HIP 13044b) 

Dr. Johny Setiawan merupakan lulusan doktor termuda di Albert-Ludwigs Universitas, Greiburg, Jerman. Ia adalah satu-satunya ilmuwan non Jerman yang menjadi Ketua Tim Proyek Max Planck Institute for Astronomy, di Heidelberg, Baden-Württemberg, Jerman sejak tahun 2003.

Profesinya sebagai seorang astronom menuntutnya untuk sering melakukan kegiatan pengamatan dari ketinggian 2400 M di tengah gurun terpencil bersuhu ekstrim, di Observatorium La Silla Chile, yang merupakan salah satu observatorium terbesar dunia di belahan bumi bagian selatan.
Hasil temuannya yang menakjubkan mendapatkan apresiasi dari para ilmuwan setempat. Terlebih saat ia berhasil menemukan planet baru dari luar tata surya (exoplanet) baru-baru ini. Yang lebih menimbulkan decak kagum terhadapnya adalah karena ia telah banyak menemukan planet, mulai dari planet bernama HD 47536 b, HD 11977 b, HD 47536 c, HD 70573 b, HD 110014 b, hingga TW Hydrae b. Ia juga mempublikasikan bahwa planet tersebut tak hanya berasal dari luar sistem tata surya, tapi diperkirakan berasal dari luar galaksi Bima Sakti. Planet itu diberi nama HIP 13044 b. Planet yang jaraknya 2000 tahun cahaya dari bumi itu, masih bertahan hidup dan diperkirakan yang masih tersisa dari fosil galaksi lain yang telah punah, yakni fosil galaksi Helmi Stream, yang tersedot ke galaksi Bima Sakti antara 6-9 miliar tahun lalu, dan berada di sebelah selatan konstelasi Fornax.


5. DR. WARSITO (Penemu Alat Pemindai (ECVT) 4 Dimensi) 

Dr. Warsito adalah seorang penemu yang mengembangkan teknologi pemindai atau Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) 4 Dimensi pertama di dunia. Ilmuwan muslim dari Indonesia ini juga sebagai pemilik paten ECVT yang didaftarkan di dokumen paten Amerika Serikat. Teknologi tersebut kini dipakai oleh Badan Antariksa Amerika Serikat atau National Aeronautics and Space Administration (NASA). ECVT adalah satu-satunya teknologi yang mampu melakukan pemindaian dari dalam dinding ke luar dinding seperti pada pesawat ulang-alik.

Teknologi ECVT ini ditemukan saat Warsito melakukan studi akhir ketika menjadi mahasiswa S1 di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia, Universitas Shizuoka, Jepang, tahun 1991. Ketika itu Warsito ingin membuat teknologi yang mampu melihat atau tembus dinding reaktor yang terbuat dari baja atau obyek yang opaque (tak tembus cahaya).


6. DR. ENG. ENIYA LISTIANI DEWI (Penemu Membran Sel Bahan Bakar) 

Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, seorang peneliti madya pada Pusat Teknologi Material, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Doctor of Engineering lulusan dari Waseda University Tokyo Jepang ini memilih bidang Kimia Terapan, dan mendalami studi tentang polimer dan katalis untuk fuel cell. Pada tahun 2003 ia mendapat penghargaan Mizuno Award, dan Koukenkai Award dari universitasnya berkat hasil temuannya berupa katalis fuel cell baru yang menggunakan unsur Vanadium.

Fuel cell adalah sel elektrokimia semacam baterai atau aki, yang dapat mengkonversi sumber bahan bakar (bisa berupa hidrogen atau hidrokarbon) menjadi listrik arus searah (DC). Fuel cell bisa digunakan menyuplai listrik rumah tangga, mobil, motor, dan lain-lain. Hasil temuan Dr. Eniya Dewi yang mutahir adalah sebuah produk membran polimer untuk fuel cell yang lebih efisien dari membran yang tersedia di pasaran. Produk membran itu dia namakan ThamriON. Produk itu memiliki efisiensi lebih baik, karena mampu mengurangi kebocoran hingga 50%. Dari sisi harga, ThamriON jauh lebih bersaing. Bila membran Nafion keluaran DuPont dijual sekitar US$.1,000 atau sekitar Rp.9 juta per meter persegi, ThamriOn hanya seharga Rp.2000 per meter persegi. Nama ThamriON sendiri merupakan gabungan dari kata ‘Thamrin’ dan ‘Ion’, dipilih untuk mengabadikan alamat kantor Dewi, Gedung BPPT yang terletak di Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat.


7. PROF. DR. KHOIRUL ANWAR (Penemu sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) 

Prof. Dr. Khoirul Anwar pemilik paten di Jepang atas sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) yang kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology, Jepang. Dia mengurangi daya transmisi pada orthogonal frequency division multiplexing. Hasilnya, kecepatan data yang dikirim bukan menurun seperti lazimnya, melainkan malah meningkat. Hasil penelitiannya tersebut mampu menurunkan power sampai 5dB=100 ribu kali lebih kecil dari yang diperlukan sebelumnya.

Tahun 2006 ia juga menemukan cara mengurangi daya transmisi pada sistem multicarrier seperti Orthogonal frequency-division multiplexing (OFDM) dan Multi-carrier code division multiple access (MC-CDMA), yaitu dengan memperkenalkan spreading code menggunakan Fast Fourier Transform sehingga kompleksitasnya menjadi sangat rendah sehingga bisa mengurangi fluktuasi daya. Teknik ini kemudian dipakai oleh perusahaan satelit Jepang.


8. DR. YOGI AHMAD ERLANGGA (Penemu rumus matematika berdasarkan persamaan Herlmholtz guna pencarian sumber minyak bumi) 

Yogi Ahmad Erlangga seorang ilmuwan muda Indonesia meraih gelar doktor dari Universitas Teknologi Delft, Belanda pada usia yang terbilang muda, 31 tahun. Dia sangat mencintai matematika. Di negeri kincir angin itu, dia dinobatkan sebagai doktor matematika terapan. Dan matematika itulah yang melambungkan Yogi Erlangga ke perusahaan minyak raksasa dunia. Rumus matematika yang dikembangkannya membuat ribuan insinyur minyak bisa bekerja cepat. Akurasi tinggi.

Yogi berhasil memecahkan rumus matematika berdasarkan “Persamaan Helmholtz”. Keberhasilan Yogi tersebut merupakan tonggak penting bagi ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi. Hasil temuannya dapat diterapkan dalam sejumlah bidang. Salah satunya untuk mempercepat pencarian sumber-sumber minyak bumi. Ia mampu memecahkan Persamaan Helmholtz yang rumit, setelah mendalaminya selama 4 tahun.

Dengan riset yang menghabiskan dana hampir Rp. 6 milyar itu, ia berhasil mengembangkan metode perhitungan lebih cepat. Penelitian Yogi adalah murni Matematika. Dia berhasil mengembangkan suatu metode kalkulasi, yang memungkinkan sistem komputer untuk menyelesaikan ekuasi krusial secara lebih cepat. Padahal, persamaan krusial itu sulit diatasi oleh sistem komputer yang dipakai perusahaan-perusahaan minyak. Penelitian Yogi itu didasarkan pada “Ekuasi Helhmholtz”.

Menurut Yogi, Shell selama ini harus menggunakan rumus Helmholtz berkali-kali. Bahkan, kadang-kadang harus ribuan kali untuk survei hanya di satu daerah saja. Itu sangat mahal dari sisi biaya, waktu dan hardware. Yogi punya persamaan matematika dalam bentuk diferensial. Yang dilakukan Yogi untuk memecahkan rumus Helmholtz itu adalah mengubah persamaan ini menjadi persamaan linear aljabar biasa. Begitu didapatkan, maka ia pecahkan dengan metode direct atau literasi.


9. Prof. Ir. R.M. Sedyatmo: penemu sistem pondasi cakar ayam

Pria yang dihormati di dunia ini menemukan sistem arsitektur infrastruktur yang dikenal dengan pondasi cakar ayam pada tahun 1962. Ia merupakan lulusan ITB tahun 1934. Sistem yang ia ciptakan begitu stabil di atas lahan yang gak stabil, sehingga memungkinkan digunakan untuk banyak bangunan di seluruh dunia. Landasan pacu pelabuhan udara Soekarno Hatta juga menggunakan sistem ini.


10. Muhammad Nurhuda: penemu kompor rumah tangga ramah lingkungan
Pria yang merupakan dosen Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang ini sukses menciptakan kompor ramah lingkungan. Setelah dites, "limbah" buangan kompor ini berada di bawah batas minimum yang ditetapkan WHO. Ciptaannya ini menarik perhatian negara-negara se Asia Pasifik dan Amerika.

11. Randall Hartolaksono: penemu bahan anti panas dan anti api dari singkong
Pria ini diremehkan saat menelurkan ide-idenya. Termasuk ide untuk menciptakan bahan anti panas dan anti api dari kulit singkong. Pria lulusan University of London ini justru dihargai oleh perusahaan otomotif dunia seperti Petronas, Ford dan masih banyak lagi atas ide yang dianggap gila tersebut.

12. Tjokorda Raka Sukawati: penemu sistem penyangga jalan layang
Kalau kamu mengeluh saat terjebak kemacetan di jalan layang, bayangkan akan seberapa lebih macetnya jika gak ada jalan layang. Sistem penyangga jalan layang dibuat sejajar dengan jalanan di bawahnya dan bisa diputar dengan mudah untuk mengaturnya. Sistem ini diakui dunia mampu menghemat tempat dan sangat mengefisiensikan transportasi. Sistem ini diciptakan oleh Tjokorda Raka Sukawati, orang asli Indonesia.







Dari berbagai sumber, antara lain:
https://andrispt.wordpress.com/2016/10/09/bj-habibie-penemu-teori-keretakan-crack-pesawat-yang-di-pakai-di-dunia-penerbangan/
https://www.kaskus.co.id/thread/5433b61b12e25739778b456a/7-ilmuan-indonesia-quotlebih-terkenal-di-negeri-orangquot/
https://www.idntimes.com/science/discovery/bayu/penemu-indonesia-yang-diakui-internasional/full
Kemajuan teknologi pada saat ini tidak lepas dari adanya penemuan-penemuan hebat yang terdahulu. Berikut adalah 10 penemu atau ilmuwan hebat dunia. 

1. ALEXANDER GRAHAM BELL

Siapa yang tak kenal dengan Alexander Graham Bell. Namanya tercatat sebagai penemu alat komunikasi, telepon. Pada 1874, Bell bersama sang asisten, Thomas Watson, merakit embrio telepon yang disebut dengan telegrap. Dua tahun kemudian, penemuannya tersebut dinyatakan sukses. Namun, pada Juni 2002, pemerintah Amerika Serikat menginformasikan bahwa penemu telepon ternyata bukanl Bell, melainkan Antonio Meuci.  Walaupun Alexander Graham Bell penemu telepon, dia tidak pernah menelepon istri dan ibunya karena mereka tunarungu

2. THOMAS ALVA EDISON

Thomas Alva Edison adalah pria kelahiran Ohio, Amerika Serikat. Ia terkenal karena sukses menciptakan lampu pijar. Edison juga termasuk ilmuwan yang produktif. Ia juga berhasil menciptakan proyektor sederhana untuk memutar film – film pendek. Selain itu, Edison juga aktif membantu pemerintah, khususnya dalam bidang militer. Ia aktif melakukan berbagai riset untuk kepentingan pemerintah, diantaranya pendeteksi pesawat terbang dan kapal selam musuh. 

3. ALBERT EINSTEIN

Einstein, si jenius ini lahir pada tanggal 14 Maret 1879 di Ulm, Jerman. Sebagai ilmuwan besar di abad ke 20, ia menemukan banyak temuan. Satu di antaranya yang paling tersohor adalah teori relativitas. Teori ini menjelaskan jika suatu benda yang bermassa M diberi kecepatan cahaya pangkat dua maka akan dapat menghasilkan energi yang begitu besar. Temuannya yang satu ini membuat namanya terkenal dan ia pun diganjar dengan beberapa penghargaan nobel. 

4. GALLILEO GALLILEI

Gallileo Gallilei, Lahir di Pisa, Italia, pada tanggal 15 Februari 1564. Ia adalah seorang astronom dan fisikawan. Ia dikatakan sebagai seorang astronom karena sumbangsihnya dalam bidang astronomi, yaitu penyempurnaan teleskop. Awalnya, alat yang berfungsi sebagai pelihat benda-benda angkasa ini dibuat oleh ilmuwan asal Belanda. Lalu ia menyempurnakanya dari 3 kali pembesaran menjadi 32 kali pembesaran. Berkat penyempurnaan inilah, ia menjadi orang pertama yang melihat bintik matahari. 

5. ISAAC NEWTON

Jika kita melempar sebuah apel ke atas langit, pastilah apel itu akan kembali jatuh ke bumi. Kira-kira itu adalah dasar teori gaya gravitasi yang ditemukan oleh Isaac Newton. Berawal dari rasa keingintahuannya mengapa apel di pekarangan rumahnya bisa jatuh dari pohon. Ia pun melanjutkannya dengan sebuah penelitian. Newton berfikir bahwa ada sebuah gaya yang membuatnya jatuh kembali ke bumi. Alhasil, pada tahun 1687 ia menggunakan kata gravitas atau gravitasi yang artinya adalah berat sebagai penamaan dari gaya tersebut. 

6. JAMES WATT

James Watt adalah seorang ilmuan asal Inggris yang menyempurnakan mesin uap. Awalnya ia hanya melihat bahwa mesin uap yang sebelumnya bekerja sangat tidak praktis dan inefisien. Lalu ia melakukan beberapa percobaan dan penelitian. Hasilnya, Watt mampu membuat mesin uap yang efisien dan praktis. Hal itupun mampu membuat kerja petani menjadi lebih cepat. James Watt bisa dikatakan sebagai salah satu perubah dunia, sebab tanpa ia sadari hasil temuannya tersebut telah mendorong terjadinya revolusi industri. 


7. JULIUS ROBERT OPPENHEIMER

J.R. Oppenheimer adalah seorang ilmuwan fisika asal Amerika Serikat. Ia terkenal dengan ciptaannya bom atom yang melululantahkan Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada saat perang dunia ke 2. Oppenheimer sempat menyesali pekerjaannya dan menyerukan agar energi atom digunakan untuk kepentingan positif. Ia pun merubah haluan hidupnya dengan melanjutkan karir sebagai pengajar di Princeton University. 

8. WRIGHT BERSAUDARA

Kedua kakak beradik ini yaitu Orville Wright dan Wilbur Wright merupakan kakak beradik paling bersejarah di dunia. Pasalnya, mereka adalah orang pertama yang berhasil membuat cikal bakal pesawat terbang untuk pertama kalinya. Berawal dari sebuah usaha perbaikan sepeda motor di Ohio, Amerika Serikat. Saat itulah mereka mempelajari banyak hal tentang mesin, khususnya mesin pesawat terbang. Alhasil, ia berhasil menciptakan 3 jenis pesawat terbang dan berhasil menerbangkannya setelah melakukan 1000 kali percobaan. 
Penerbangan pertama Wright Bersaudara. Orville yang mengendalikan pesawat, sedangkan Wilbur tampak berlari di samping setelah melepaskan pegangannya untuk menyeimbangkan pesawat itu.


9. LOUIS PASTEUR

Seorang berkebangsaan Prancis bernama Louis Pasteur tercatat sebagai orang yang cukup penting dalam ilmu kedokteran. Sebab, Pasteur merupakan seorang ilmuwan yang sukses menemukan cara untuk mencegah pembusukan pada makanan. Penemuannya ini sering disebut dengan pasteurisasi. Selain itu, ia juga memberikan sumbangsih pada ilmu kedokteran dengan membuat obat pencegah penyakit antraks atau vaksin antraks dan suntikan obat untuk melawan penyakit anjing gila atau rabies. 

10. NIKOLAUS OTTO

Nikolaus Otto adalah ilmuan yang bergerak dalam bidang otomotif. Pria yang lahir di Holzhausen an der Haide, Jerman, 14 Juni 1832 silam itu termasuk orang paling berjasa untuk kemajuan teknologi di era modern. Ia berhasil menciptakan mesin yang dapat menggerakan keseluruhan ban pada kendaraan, atau biasa disebut dengan mesin empat tak. Otto juga membuat sebuah mesin yang hemat bahan bakar yang digunakan pada mobil – mobil modern pada saat ini.



sumber: wikipedia, sindonews
KOMPAS.com - Sepasang singa yang tampan ini lahir pada 25 Agustus 2018 di Ukutula Conservation Center & Biobank, Afrika Selatan. 

Mereka adalah singa pertama yang lahir lewat inseminasi buatan. Dalam prosesnya, tim dokter hewan internasional yang dipimpin Dr. Isabel Callealte dari Universitas Pretoria mengaku menggunakan air mani singa jantan dewasa dengan kualitas unggul yang masih segar. Untuk menghormati Dr Callealte dan tunangannya, kedua anak singa itu diberi nama Isabel dan Victor. 

Singa Afrika (Panthera leo) sebenarnya jumlahnya masih terhitung aman di penangkaran, mereka masih dapat kita lihat. Namun, lain cerita dengan singa Afrika yang ada di alam liar. 

Menurut Daftar Merah IUCN, singa Afrika sudah terdaftar sebagai spesies rentan punah. Penurunan populasinya di alam liar pun mencapai 98 persen dalam 220 tahun terakhir, di mana antara 1993 sampai 2014 penurunan populasi mencapai 43 persen. Kemudian, antara 2016 sampai 2018, jumlah mereka turun dari 25.000 menjadi 18.000 ekor. 


Tim ahli mengumpulkan sperma dari singa jantan dewasa yang akan digunakan untuk inseminasi buatan. Seperti yang kita duga, penurunan populasi singa Afrika disebabkan oleh manusia melalui perburuan liar, hilangnya habitat, dan berkurangnya mangsa di habitat asli. 

Yang tersisa dari singa Afrika di alam liar adalah populasi kecil dan terpecah belah yang bisa memicu perkawinan sedarah. Sebab itu, inseminasi buatan yang diterapkan ke singa akan membantu mereka mengatasi masalah dengan memperluas distribusi genetik. 

Pada gilirannya, hal ini akan menekan akan penularan penyakit dan membuat populasi lebih sehat. Teknik ini nantinya tidak hanya digunakan untuk singa Afrika, tetapi sub-populasi singa dan bahkan kucing besar lain yang terancam punah.

 Untuk diketahui, saat ini ada beberapa sub-populasi singa tertentu yang lebih berisiko punah. Misalnya singa Afrika Barat yang ditetapkan sebagai spesies sangat terancam punah dan singa Asia (Panthera leo persica) yang terdaftar terancam punah. Singa betina menjalani proses inseminasi buatan. Selain membantu pelestarian populasi, percobaan pertama ini juga memberi data baru tentang fisiologi reproduksi singa Afrika. 

"Bersama dengan keberhasilan lahirnya singa lewat proses inseminasi buatan pertama di dunia, teknik ini sekaligus meletakkan dasar protokol inseminasi buatan yang efektif untuk spesies ini, yakni menggunakan sperma segar dan beku yang dicairkan," kata Callealte dilansir IFL Science, Selasa (4/9/2018). 

"Kami berterima kasih pada tim ilmuwan yang terus bekerja tanpa henti dalam mengejar elemen kunci ini untuk melestarikan generasi (singa) di masa depan," imbuh Willi Jacobs, pemilik Ukutula dan pendiri UCC & Biobank. 

"Tak ada keraguan lagi bahwa konservasi satwa liar melalui penelitian ilmiah adalah solusi jangka panjang yang paling sesuai untuk menyelamatkan populasi satwa liar," kata Jacobs lagi. Sebelumnya, anjing serigala di Meksiko juga berhasil dilahirkan lewat sperma beku untuk pertama kalinya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Atasi Kepunahan, Dua Singa Dilahirkan Lewat Inseminasi Buatan ", https://sains.kompas.com/read/2018/09/05/190200123/atasi-kepunahan-dua-singa-dilahirkan-lewat-inseminasi-buatan-. 
Penulis : Gloria Setyvani Putri
Editor : Gloria Setyvani Putri
KOMPAS.com – Asumsi sebelumnya, sistem navigasi burung ada karena di dalam tubuh burung terdapat magnet yang dapat digunakan sebagai kompas. 

Kompas ini diduga membantu burung agar tidak tersasar ketika melakukan migrasi. Namun, teori tersebut sedang diperbarui. 

Dilansir dari Science Alert, Sabtu (01/09/2018), para ilmuwan berkata bahwa pada mata burung terdapat protein yang memberi mereka kemampuan untuk melihat medan magnetik Bumi. 

Protein mata ini disebut Cry4, yang merupakan bagian dari kelas protein yang disebut cryptochromes. Crytochromes sendiri adalah fotoreseptor yang sensitif terhadap cahaya biru, yang ditemukan pada tumbuhan dan hewan. 

Namun, ada juga bukti dalam beberapa tahun terakhir yang mengatakan bahwa pada burung, cryptochromes di mata mereka membuat mereka mampu untuk menyesuaikan diri dengan mendeteksi medan magnetik, yang disebut magnetoreception. 

Untuk menemukan bukti tambahan tentang kegunaan cryptochromes, dua tim ahli biologi dari Jerman dan Swedia melakukan penelitian lebih lanjut dengan burung yang berbeda. 

Para peneliti dari Universitas Lund di Swedia mempelajari burung pipit zebra, dan para peneliti dari Universitas Carl von Ossietzky di Jerman mempelajari burung robin eropa. 

Tim dari Universitas Lund mengukur ekspresi gen dari tiga cryptochromes, Cry1, Cry2 dan Cry4, yang terdapat pada otak, otot, dan mata burung pipit zebra. 

Hipotesis mereka adalah cryptochromes yang terkait dengan magnetoreception terus bekerja mengikuti ritme sirkadian (jam biologis pada makhluk hidup). Mereka menemukan waktu sirkadian untuk gen Cry1 dan Cry2 fluktuatif atau tidak menentu setiap harinya. 

Akan tetapi, Cry 4 diekspresikan secara konstan, menjadikannya kandidat yang paling mungkin untuk memiliki keterkaitan dengan magnetoreception. 

Temuan ini juga didukung oleh bukti yang ditemukan oleh tim dari Jerman. Baca juga: Burung Julang, Satwa Endemik Sulawesi yang Populasinya Terus Berkurang "Kami juga menemukan bahwa mRNA Cry1a, Cry1b, dan Cry2 menampilkan pola osilasi sirkadian yang kuat, sedangkan Cry4 hanya menunjukkan osilasi sirkadian yang lemah," tulis para peneliti. 

Disamping temuan ini, para peneliti juga menemukan sesuatu yang menarik. Pertama, Cry4 berkerumun di wilayah retina yang menerima banyak cahaya yang membuat magnetoreception bergantung pada cahaya. 

Kemudian, burung robin eropa akan meningkatkan ekspresi Cry4 selama musim migrasi, dibandingkan dengan unggas atau burung lain yang tidak melakukan migrasi. 

Kendati demikian, kedua tim penelitian sepakat untuk terus melanjutkan penelitian sebelum dapat mendeklarasikan bahwa Cry4 adalah protein yang memiliki keterkaitan yang kuat terhadap magnetoreception. 

Bukti yang ditemukan memang cukup kuat, namun tidak definitif. Malahan masing-masing Cry1 dan Cry2 juga mempunyai implikasi terhadap magnetoreception. 

Oleh karena itu, para peneliti berencana untuk mengamati burung dengan Cry4 yang tidak berfungsi untuk mencari tahu bagaimana respons burung akan tidak adanya unsur tersebut, sementara penelitian lain akan mencari peran Cry1. 

Jadi, apa dilihat oleh burung? Kita tidak bisa tahu seperti apa dunia ini terlihat lewat mata spesies lain, tetapi kita mungkin bisa menebaknya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ilmuwan Temukan Ternyata Burung dapat Melihat Medan Magnetik Bumi", https://sains.kompas.com/read/2018/09/03/203300523/ilmuwan-temukan-ternyata-burung-dapat-melihat-medan-magnetik-bumi. 
Penulis : Bhakti Satrio Wicaksono
Editor : Shierine Wangsa Wibawa
KOMPAS.com - Di benak Anda dan hampir semua orang, hiu merupakan hewan pemakan daging atau karnivora. 

Namun, lautan yang penuh dengan kejutan membalikkan anggapan itu. Para ilmuwan menemukan salah satu hiu yang sebenarnya masuk dalam kategori sebagai hewan omnivora.  

Hiu tersebut adalah bonnethead (Sphyrna tiburo) yang berukuran relatif kecil dan ditemukan di pesisir Amerika Serikat. 

Penelitian menunjukkan bahwa hiu ini adalah flexitarian yang memiliki kemampuan untuk berganti pola makan antara daging dan tanaman. 

Sebelumnya selama lebih dari satu dekade, para ilmuwan memang sudah mengetahuI jika hiu bonnethead memang mengonsumsi lamun. 

Lebih dari 62 persen isi perut mereka menampung tanaman akuatik ini. 

Namun para ilmuwan berasumsi bahwa hiu-hiu memakan lamun karena faktor ketidaksengajaan saat menyisir perairan dangkal ketika berburu kepiting, cumi-cumi, dan invertebrata kecil lainnya. 

Mereka tidak berpikir bahwa hiu tersebut sebenarnya mampu mencerna rumput sebagai makanan.

"Kita berasumsi mereka memakan lamun secara insidental dan (lamun) tidak memberikan nilai gizi pada mereka," kata Samantha Leigh, ahli ekologi dan biologi evolusi di University of California, Irvine, seperti dikutip dari Science Alert, Rabu (5/9/2018). 

"Saya ingin melihat berapa banyak diet lamun ini bisa dicerna oleh ikan hiu, karena apa yang dikonsumsi hewan tidak harus sama dengan apa yang dicerna," ujar Leigh. 

Untuk mengetahui apakah hiu ini benar-benar omnivora, para ilmuwan menanam lamun dari Florida Bay di laboratorium. 

Tanaman kemudian diberi tanda kimia yang unik dan mudah diidentifikasi dengan menambahkan isotop karbon spesifik ke air. 

Setelah mengumpulkan lima hiu bonnethead, para peneliti menyajikan makanan yang terdiri dari 90 persen lamun dan 10 persen cumi-cumi di laboratorium. 

Tiga minggu kemudian semua hiu menjadi gemuk. Namun itu tidak cukup bukti, sehingga para peneliti menjalankan serangkaian tes untuk melihat berapa banyak materi tanaman yang dicerna dan berapa banyak dari itu yang diekskresikan. 

Ternyata, setelah melalui serangkaian tes darah, para peneliti menemukan pelacak kimia tingkat tinggi dalam darah dan jaringan hati hiu. Ini menunjukkan bahwa nutrisi lamun memang telah diserap. 

Penemuan ini terus terang mengejutkan para ilmuwan. "Akhirnya kami menentukan jenis enzim pencernan (enzim yang digunakan untuk memecah molekul makanan) yang dimiliki oleh hiu bonnethead," kata Leigh.

"Enzim yang berbeda memecah nutrisi. Pada umumnya, karnivora memiliki tingkat enzim yang untuk memecah serat dan karbohidrat yang rendah. Namun, hiu bonnethead memiliki tingkat yang sangat tinggi dari jenis enzim ini," tambahnya. 

Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkapkan bahwa lima hiu bonnethead mencerna lebih dari setengah bahan organik yang ditemukan di lamun. 

"Kesimpulannya jelas, hiu bonnethead tidak hanya mengonsumsi lamun dalam jumlah banyak tetapi mereka sebenarnya mampu mencerna dan menyerap nutrisi lamun, membuatnya menjadi omnivora," jelas Leigh. 

"Ini adalah spesies hiu pertama yang pernah terbukti memiliki pencernaan omnivora," katanya. Temuan ini tentunya meruntuhkan asumsi kita tentang diet hiu. 

Selain itu mereka juga memaksa para ilmuwan untuk mempertimbangkan kembali peran hiu bonnethead di habitat lokal mereka. 

Padang rumput lamun adalah ekosistem pesisir yang paling luas di Bumi, menyediakan rumah bagi ribuan ikan dan invertebrata. 

Sementara pada saat yang sama, menyaring air dan menyerap karbon dioksida berlebih dari atmosfer. 

Sekarang kita tahu padang rumput yang berharga ini memiliki predator lain, itu dapat secara drastis mengubah cara para ilmuwan untuk melestarikannya. 

"Kami perlu mengevaluasi kembali peran hiu di habitat padang lamun sebagai omnivora yang berkebalikan dengan karnivora," kata Leigh lagi. Penelitian ini telah diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Makan Rumput, Inilah Hiu Omnivora Pertama di Dunia", https://sains.kompas.com/read/2018/09/06/080900923/makan-rumput-inilah-hiu-omnivora-pertama-di-dunia. 
Penulis : Kontributor Sains, Monika Novena
Editor : Shierine Wangsa Wibawa
KOMPAS.com - Pernahkah Anda bertanya, seberapa bersih air yang ada di sekitar Anda? 

Jika Anda berpikir itu sudah cukup bersih, mungkin Anda harus melihat ciptaan para peneliti Universitas Teknologi Wina ini. 

Rabu (23/08/2018) lalu, para peneliti tersebut menyebut telah menciptakan setetes air paling bersih di dunia. 

Air ultra murni ini membantu menjelaskan bagaimana permukaan yang dilapisi dengan titanium dioksida (TiO2) bisa membersihkan diri. 

Permukaan dengan lapisan tersebut menjadi tertutup lapisan misterius molekul ketika bersentuhan dengan udara dan air. 

"Kami memiliki empat laboratorium (di seluruh dunia) yang mempelajari ini dan empat penjelasan berbeda untuh hal itu," ungkap Ulrike Diebold, co-author penelitian ini dikutip dari Live Science, Kamis (24/08/2018). 

Ketika Hari Terang Diebold menjelaskan, saat permukaan TiO2 terkena sinar ultraviolet mereka bereaksi dengan cara "memakan" setiap senyawa organik pada permukaan itu. Hal ini memberi permukaan tersbeut sejumlah sifat yang berguna, seperti cermin berlapis TiO2 akan mengusir uap air bahkan di kamar mandi yang beruap. 

Diebold juga menjelaskan, meninggalkan benda ini di ruang terlalu lama bisa membentuk kotoran-kotoran misterius. Penjelaskaan paling masuk akal lemibatkan semacam reaksi kimia dengan uap air ambient. Selain itu, menciptakan tetesan air yang sangat bersih merupakan tantangan. Apalagi air sangat mudah terkontaminasi oleh kotoran dan air yang benar-benar murni tidak ada. 

Untuk itu, yang bisa dilakukan adalah membuat air yang sedekat mungkin dengan sangat murni. 

Perangkat Khusus 

Diebold membuatnya dengan cara merancang perangkat khusus yang mendorong air sampai batasnya. Dalam perangkat tersebut ada ruang hampa dengan "jari" yang menggantung dari langit-langitnya dengan suhu minus 140 derajat Celcius. 

Para peneliti kemudian melepaskan sampel uap air yang dimurnikan dari ruang didekat vakum. Hal ini membuat air membentuk es di ujung jari itu. 

Selanjutnya, es itu dibiarkan meleleh dan menetes ke sepotong TiO2 di bawah sebelum dengan cepat menguap ke ruang ultra-rendah. 

Setelah itu, TiO2 tidak menunjukkan tanda-tanda dari film molekuler yang diduga beberapa peneliti berasal dari air. 

Inilah yang kemudian dilaporkan dalam jurnal Science. "Kuncinya adalah bahwa baik air maupun titanium dioksida yang pernah terkena udara sebelumnya," kata Diebold. 

Tindak lanjut pemindaian TiO2 menggunakan mikroskop dan spektroskopi menunjukkan bahwa film itu tidak terbuat dari senyawa yang berhubungan dengan air atau air sama sekali. 

Sebaliknya, asam asetat (yang memberi cuka rasa asamnya) dan asam format, senyawa serupa, muncul di permukaan. 

Keduanya merupakan hasil sampingan dari pertumbuhan tanaman dan hanya ada dalam jumlah kecil di udara. Namun, tampaknya, ada cukup banyak bahan ini yang mengapung ke permukaan yang kotor dan membersihkan diri.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Begini Cara Ilmuwan Ciptakan Air Paling Murni di Dunia", https://sains.kompas.com/read/2018/08/30/183200223/begini-cara-ilmuwan-ciptakan-air-paling-murni-di-dunia. 
Penulis : Resa Eka Ayu Sartika
Editor : Resa Eka Ayu Sartika
KOMPAS.com - Seorang perempuan asal Pennsylvania, AS menyalahkan lensa kontak atas infeksi langka yang menyerang matanya. 

Perempuan tersebut adalag Tori Gasho, perempuan 22 tahun yang merasakan sakit berdenyut di mata kanannya setelah lulus kuliah awal musim panas lalu.

Sejak saat itu, penglihatan Gasho terus memburuk. Dia sempat khawatir akan kehilangan penglihatan di matanya secara keseluruhan. "Ini semacam rasa tertusuk, seperti ada sesuatu di mata saya," ungkap Gasho dikutip dari WPVI melalui Fox News, Kamis (30/08/2018). 

Untuk rasa sakit yang dialaminya, Gasho didiagnosis menderita Acanthamoeba Keratitis. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), penyakit tersebut disebabkan oleh ambuba kecil Acanthamoeba yang menginfeksi penutup kornea. 

Sebenarnya jenis amuba ini umum ditemukan di perairan besar seperti danau atau lautan. Tapi, mereka juga bisa melakukan "perjalanan" melalui udara dan meresap ke dalam tanah. "Mereka ada di mana-mana, di air keran biasa, air kolam, samudra, itu benar-benar di semua tempat," kata Christopher Rapuano, kepala layanan penyakit Eksternal dan Kornea di Rumah Sakit Mata Wills, Philadelphia. 

Lensa Kontak Meski amuba ini bisa ditemukan di mana-mana, orang yang rentan dalam pengguna lensa kontak. Di Amerika Serikat sendiri, sekitar 85 persen kasus Acanthamoeba Keratitis adalah pengguna lensa kontak. 

"Hal-hal seperti tidak membersihkan lensa kontak dengan benar, tidur menggunakan benda itu sangat dilarang. Berenang dengan lensa kontak juga tidak boleh dilakukan. Mandi masih menggunakan alat ini juga tidak bagus," ujar Rapuano. 

Bisa Dicegah Namun, hal ini bukan berarti Anda tidak boleh menggunakan lensa kontak. CDC menyarankan cara terbaik menghindari infeksi adalah dengan membersihkan lensa kontak dengan larutan setiap hari. 

Untuk diketahui, infeksi semacam ini sulit diobati. Sebenarnya sudah ada beberapa obat yeng tersedia untuk mengobatinya. 

Namun, obat tersebut harus diresepkan oleh dokter mata dan disertai perawatan yang ketat selama beberapa bulan. 

Gasho menyadari bahwa untuk bisa pulih dia harus menempuh jalan yang panjang. Kini, dia hanya berharap bisa membuka mata atau melihat sedikit saja.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Akibat Lensa Kontak Perempuan AS Alami Infeksi Mata Langka", https://sains.kompas.com/read/2018/08/31/131220323/akibat-lensa-kontak-perempuan-as-alami-infeksi-mata-langka. 
Penulis : Resa Eka Ayu Sartika
Editor : Resa Eka Ayu Sartika
KOMPAS.com - Pada Asian Games 2018 Kontingen Indonesia telah meraih 31 medali emas, yang merupakan prestasi terbaik tim Merah-Putih sejak pesta olahraga terakbar Benua Asia itu pertama digelar pada 1951 lampau. 

Kementerian Pemuda dan Olahraga mengklaim bahwa raihan ini merupakan dampak penerapan sport science alias sains olahraga. 

"Dengan kebijakan baru pemerintah, setiap induk cabor (cabang olahraga) wajib merekrut tenaga sport science dari perguruan tinggi," kata Mulyana, Deputi 4 Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga. 

"Dua tahun ini kami sudah melakukan seperti itu dan dampaknya, hasil yang kita peroleh sekarang ini mungkin adalah bagian dari penerapan sport science," sambungnya. Ke depan, Mulyana mengatakan Indonesia akan memiliki Pusat Olimpiade yang melibatkan sains olahraga demi meningkatkan prestasi. 

"Untuk atlet elite yang menuju Olimpiade dan Asian Games, kami sudah merancang Olympic Centre. Jadi dipadukan antara rumah sakit, laboratorium, dan tempat-tempat latihan atlet cabang unggulan," ujar Mulyana. Tempat tersebut, tambahnya, juga akan memiliki para pakar di bidang nutrisi, psikologi, biomekanika, serta kedokteran olahraga. Diharapkan tempat itu bakal berfungsi seperti Institut Olahraga Australia serta Insitut Ilmu Olahraga Jepang. 



Akan tetapi, ketika ditanya kapan Pusat Olimpiade itu akan direalisasikan, Mulyana mengatakan, "Masih diperjuangkan." Apa Itu Sains Olahraga? Sport science sejatinya merupakan ilmu multidisiplin yang mencakup fisiologi, psikologi, biomekanika, nutrisi, dan kedokteran olahraga, menurut Tommy Apriantono, Ketua Kelompok Keilmuan Sports Sciences, Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung. 


Indonesia, kata Tommy yang menekuni studi biomekanika di Universitas Nagoya, Jepang, memang sudah menerapkan sport science. Akan tetapi, dibandingkan dengan negara seperti Jepang, China, dan Korea Selatan, Indonesia tertinggal jauh. "Untuk mengejar negara seperti Jepang, Indonesia memang butuh waktu yang lama. Karena Cina, Jepang, Korea Selatan, sudah menciptakan atlet, by design, bukan menunggu," papar Tommy. "Kalau kita kan kebanyakan menunggu. Tiba-tiba Lalu Muhammad Zohri muncul," imbuhnya. Dia mencontohkan bagaimana Jepang menciptakan atlet di Insitut Ilmu Olahraga.

Dalam kunjungannya ke institut tersebut, Tommy menyaksikan para atlet dayung Jepang mendapat simulasi gerakan Sungai Thames, beberapa tahun sebelum Olimpiade London digelar pada 2012. "Semua gerakan dipelajari dan disimulasikan di ruangan sehingga atlet terbiasa dengan gerakan Sungai Thames," tuturnya. 


Contoh lainnya, para atlet maraton Jepang dipersiapkan mengikuti Olimpiade Sidney pada 2000 silam dengan menjalani latihan di ruangan yang dirancang seperti kondisi ketika pertandingan digelar, termasuk suhu, kontur jalan, hingga kelokan rute. Penerapan di Indonesia Soal sport science, Indra Sjafri selaku pelatih tim nasional sepakbola U-19 mengaku telah menerapkannya. Dalam skuat Indonesia, dia mengaku didampingi tim dokter, ahli gizi, dan fisioterapis. Namun, soal peralatan canggih yang lazim dipakai pesepakbola di Eropa, Indra mengatakan Indonesia memang belum memilikinya.

"Kita tidak berkeluh kesah kalau alatnya kurang. Banyak hal yang kita bisa lakukan secara manual, walaupun alat kita nggak modern," kata Indra. "Contoh cryotherapy, harus ada ruangan sauna yang khusus dan modern. Kita nggak punya itu, jadi yang saya melakukan di timnas angkatan Evan Dimas cs, saya pakai tiga tong berisi air dingin, air netral, dan air es.

Tujuannya sama dengan alat-alat modern, yaitu untuk mempercepat pemulihan tubuh," tambahnya. Ditanya soal sport science yang menjurus ke perumusan taktik dengan menggunakan statistik dan penyempurnaan teknik melalui ilmu biomekanika, Indra mengangkat bahu. "Kita belum sampai ke situ. Kalau dibandingkan dengan dunia sepak bola di Eropa dengan Indonesia, itulah ketertinggalan kita," cetusnya. Bukan Masalah Utama Soal jauhnya ketertinggalan sport science Indonesia dengan negara-negara, seperti Jepang, Cina, dan Korsel diakui menurut Amal Ganesha, selaku salah satu pendiri Yayasan Ganesport—sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan menciptakan pembangunan berkelanjutan melalui olahraga.

"Contoh di sepak bola. Dunia sepak bola sudah lama mengenal statistik, bahkan ada penyedia jasa statistik untuk sepakbola di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir," papar Amal. "Tapi pelatih sepakbola di Indonesia banyak yang standar lisensi kepelatihannya tidak tergolong elite. Jadi, pelatih tidak tahu bagaimana menggunakan statistik, padahal itu sport science," imbuhnya. Mendorong agar olahraga prestasi Indonesia menggunakan sport science, menurut Amal, bukan solusi tunggal.

Hal itu karena penerapan sport sains dan tajamnya perbedaan penerapan pengetahuan olahraga antara Indonesia dan negara-negara maju bukanlah masalah utama. Amal, yang lulusan pascasarjana manajemen olahraga dari Universitas Coventry, Inggris, itu menilai masalah olahraga prestasi di Indonesia adalah tata kelola. "Ada beberapa atlet yang saya ajak bicara, mereka mengaku tidak punya pekerjaan jika pelatnas dan ajang Asian Games selesai. Itu artinya olahraga kita tidak menciptakan keberlanjutan. Ini masalah. Bagaimana atlet mau konsentrasi jika kesejahteraan tidak terjamin?" cetusnya.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Prestasi Indonesia di Asian Games 2018: Bukti Praktik "Sport Science"?", https://sains.kompas.com/read/2018/09/02/173500823/prestasi-indonesia-di-asian-games-2018-bukti-praktik-sport-science. 

Editor : Resa Eka Ayu Sartika